Lembaran Keenambelas 2022| Nur Afiah Zahrah

SHERLOCK HOLMES

(16 of 365) 

Cungg angkat tangan deh, siapa yang punya tokoh fiksi favorit?
Absen dulu nama tokoh fiksi kesayangan di kolom komentar!

๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”

Seseorang dari keramaian suara berkata, 

“Di dunia ini kamu memiliki 10 manusia kembar sepertimu.” 

Sebentar, kembar apanya ya? Kalau watak, tidak semua orang memiliki watak dan karakter yang sama. Jika kembar karena fisik, aku hanya menemukan seorang saja yang benar-benar seperti aku hehe.

Namun, jika ada tokoh fiksi yang setiap ia berbicara kamu hanya selalu terpukau karena dirimu tergambar lewat tokoh itu. Sayangnya, untungnya, satu-satunya, hanyalah tokoh fiksi yang bernama Sherlock Holmes.

Si penyuka hal-hal filosofis berbau investigasi yang rumit dan kreatif, tentunya, akan menghabiskan banyak sel-sel otak untuk mencerna semua kasus yang diterimanya. Tokoh yang super tidak dapat ditebak dan suka semaunya alias bebas berekspresi. Sherlock yang menganggap cinta adalah kekurangan dalam intelegensi. Ah I see, searah dengan apa yang dikatakan Albert Einstein,

“Orang yang sedang jatuh cinta, ia memiliki IQ nol.”

Hoho kita semua dapat berpendapat pro dan kontra dalam hal ini. Namun secara garis besar, Sherlock tidak sedingin itu, ia tahu bahwa John Watson hanya satu-satunya teman terbaik yang ia punya dan paling ia andalkan dibanding kakak kandungnya sendiri, Mycroft Holmes.

Cerita ketika Sherlock Holmes bertemu dengan Irene Adler adalah episode yang paling mind blowing. Bagaimana seorang jenius kebangetan menghadapi perasaannya sendiri?! Sulit bagi penonton seperti Jara untuk menebak secara jelas apakah episode ini tentang Sherlock yang jatuh cinta atau Irene Adler yang terang-terangan atau keduanya saling membantu tetapi tetap private dan profesional dengan peran di dunianya sendiri yang bersebrangan itu?!

๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”

Aku melihat beberapa laman yang menyebutkan Sherlock Holmes adalah seorang INTP. Aku setuju dengan pemberian INT-nya! Sangat terlihat jelas ketika Sherlock menyebutkan ia memiliki mind palace (istana pikiran), tidak memiliki teman akrab kecuali John Watson, dan mendahulukan persepsi dan pola intuitif-imajinatifnya daripada seseorang bercerita dahulu tentang dirinya kepada Sherlock.

Aku rasa P dalam MBTI yang dimiliki Sherlock tersebut didapat dari perannya sebagai konsultan investigasi dan detektif swasta di mana Sherlock selalu melihat apa pun dengan fakta secara aktual dan tidak menyukai hipotesis yang tidak berdasar sebelum Sherlock mengujinya dengan panca inderanya sendiri, ah sering juga mengujinya dengan alat-alat laboratorium di rumahnya dan tempat kerjanya.

๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”

Aku mengetahui Sherlock Holmes setelah aku mengetahui Detective Conan. Haha, akibat dari rekomendasi seorang teman dekatku sekitar 6 atau 7 tahun lalu karena ia tahu akan sangat menyukai Conan. Suprisingly, aku menghabiskan rentetan season Sherlock Holmes dengan ringan dan kontinu tetapi aku tidak pernah bosan. Aku seperti merasa melihat diriku di dalam layar kaca.

Saat Sherlock berkata, “Diam. Jangan ada yang bergerak dan bernapas. Itu akan mengganggu pikiranku.” Itu adalah kalimat kasar di mana aku sering melontarkannya ketika sedang tidak mau diganggu. Sampai aku menulis “ORANGNYA LAGI SIBUK JANGAN DIGANGGU” di daun pintu kamarku sebanyak dua peringatan yang ditulis dengan kapur putih. Namun aku sudah menghapus tulisan itu. Kadang ada momen di mana aku tidak ingin diganggu karena siapapun dapat menjadi penghalang untukku dan aku menyesal jika tidak dapat berkonsentrasi penuh. Terkesan arogan memang, tetapi mengganggu konsentrasi orang lain itu juga tidak baik.

Lalu saat Sherlock berkata, “Aku iri denganmu John. Kamu sangat tenang dan lurus. Sedangkan kepalaku seperti mesin yang selalu bergerak dan berisik.” Itu adalah salah satu gangguanku selama ini dan sampai ada satu kartu ucapan graduation kemarin yang berbunyi, “Jangan kebanyakan mikir. Otaknya butuh istirahat juga.” Bahkan ketika aku terdiam saja alias melamun oon. Aku tidak sedang kosong pikiranku. Ada saja hal imajinasi, teori apa, metode apa, dan banyak hal yang aku pikirkan yang mengalir begitu saja tanpa dipinta. Benar apa kata Sherlock seperti mesin yang selalu bergerak. Ada satu momen di mana mesin itu tidak bergerak, tak lain tak bukan, saat sakit. Saat tidur pun, otak masih bergerak untuk mengendalikan isi mimpi dan menentangnya ww.

Sherlock yang sangat menyukai gula karena dianggap lebih berguna untuk kinerja otaknya adalah aku yang sangat menyukai makanan dan minuman manis daripada rasa gurih. Aku cenderung menghabiskan uang untuk membeli es krim hoho. Sependapat dengan Sherlock, ketika mengonsumsi makanan manis, otak Jara seperti menstimulasikan rasa bahagia dan tidak ada kepenatan. Mengonsumsi es krim mochi jauh lebih penting daripada membeli chiki gurih. Sesuatu yang manis akan membuat Jara jauh lebih on fire daripada rasa gurih.

Sherlock yang menderita ketika tidak ada kasus yang sangat menggiurkan adalah aku yang pusing karena tidak ada tantangan yang memuaskan. Orang yang sangat pemilih lagi menyebalkan jika dipikir-pikir. Namun bukan berarti hal ini benar dilakukan oleh semua orang karena terlalu pemilih dan terkesan buang-buang waktu. Sherlock memiliki jaringannya dan John Watson untuk menghadirkan klien yang memiliki kasus yang super keren, begitu pun Jara memiliki area dan pilihannya sendiri untuk mengerjakan sesuatu apa yang ia anggap keren dan memuaskan diri sendiri bukan orang lain.

Saat Sherlock berpikir menggunakan mind palace-nya itu seperti memprogram dan mengorganisasikan sebuah pikiran, ingatan, peristiwa, dan kenangan ke dalam sebuah kategori besar dan di dalamnya terdapat sub-sub kategori lagi. Saat Sherlock menemukan informasi dari luar yang tidak berguna untuknya, maka Sherlock tidak akan memasukkan ke dalam istana pikirannya. Ketika aku mengingat sesuatu aku akan memasukkannya dengan rapih beserta kategori tanggal, sub kategori peristiwa, dan tidak lupa memosisikan ingatan itu harus dengan jelas seperti nama, tanggal lahir/warna kesukaannya, posisi emosional, dan karakter khas orang itu, jika semuanya jelas dan aku menganggapnya seperti kenangan berharga maka jenis ingatan itu akan masuk ke dalam otak dan diterima sebagai informasi berguna yang tidak dapat hilang dengan mudah. Sama dengan Sherlock, “Sebuah kesia-siaan jika aku menggunakan otak untuk hal yang tidak berguna untukku.” Terkesan angkuh tetapi memang ada gaya pemrosesan pikiran seperti ini dan itu wajar.

Ketika Sherlock menggaungkan, “Aku akan selalu menjadi diri sendiri. Diri yang seperti ini adalah aku.” Kalimat pernyataan ini bukan hanya membuat John Watson, Mycroft Holmes (kakaknya), Mrs Hudson (pemilik 221 B), dan tim inspektur Lestrade kewalahan sampai-sampai Sherlock pernah dimarahi Hakim yang menjadi Ketua Sidang Moriarty. Jelas sekali, ketika Sherlock berkata kalimat ini berkali-kali, ini adalah humorku. Sangat lucu untukku! Karena aku dan Sherlock selalu bersikeras menjadi diri sendiri dengan warna sendiri dan kehendak sendiri sampai orang lain berkata, “Lu/kamu tidak pernah mendengarkan orang lain.”

Sherlock Holmes series membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri. Setiap dialognya membuatku semakin jelas bahwa apa yang terjadi denganku yang tercermin di series Sherlock adalah sesuatu yang memang adanya dan wajar ada yang seperti itu di dunia ini.

Sherlock Holmes adalah satu-satunya tokoh yang membuatku ingin sekali mengoleksi bukunya dalam Bahasa dan English. Satu-satunya series yang aku berharap bisa selalu sempat ku tonton ketika aku merasa bosan karena tidak ada yang dapat ku lakukan.

๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”

Aku tidak seperti Sherlock Holmes tentunya. Aku jauh lebih perasa daripada Sherlock Holmes dan tentunya kita berbeda dunia haha. Aku tidak memiliki istana pikiran seperti Sherlock, aku hanya menggunakan pohon pikiran.

Aku jadi ingat tawaran wali kelasku untuk masuk ke sekolah sandi negara karena melihat hasil enneagram observer milikku dan tahu bahwa aku suka hal yang berbau detektif. Namun sekarang hasil enneagram itu berubah, lalu aku lupa hasilnya.

Sherlock Holmes si INTP, aku si dominan INFJ lalu seringkali berubah INTJ ketika ada tekanan dan anehnya kini MBTI itu berubah ketika aku menonton Sherlock Holmes series hahaha, Jara jadi si INTP. Terpengaruh sangat! hoho

๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”

*Disclaimer:

Jara tidak ingin menjadi Sherlock Holmes, Jara hanya merasa bahwa ada beberapa watak yang saling terkait saja. Jara tidak sepenuhnya mirip dengan Sherlock Holmes dan tidak ingin menjadi sepertinya. Ada beberapa karakter fiksi juga yang seperti cerminan karakter. Namun, Sherlock Holmes memiliki kesamaan yang jauh lebih besar daripada karakter yang lainnya.

#20 hari menuju 2023 bersama Zahrah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOK THEME : REVIEW BUKU

Lirik Lagu Lead - Upturn [ROM/KAN/ENG/INA SUB]

1 OF 365 IN 2023 - LOOK AT MY LIFE FROM TWO LENSES | Nur Afiah Zahrah