SLICE OF LIFE THEME: Antara Bullying dan Trauma
Entah mengapa saya ingin mengangkat tema ini. Jelas entah mungkin sekarang saya berada di titik lesu atau mungkin karena saya benci aktivitas bully akhir-akhir ini. Siapapun benci dirinya mendapat bully.
Jelas sekali dalam QS. Al-Hujurat/49: 11-12 sebagai berikut:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَ لْقَابِ ۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)*
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)*
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Dari kedua ayat tersebut secara tersirat menyatakan bahwa menjaga perasaan seorang muslim dari lisan kita adalah akhlaq yang al-Qur’an ajarkan. Inilah akhlaq yang sulit di tengah-tengah zaman yang hedonis, kapitalis, dan materialis ini. Dimana moral sudah jauh dari norma agama.
Saya ingin cerita banyak hal berkaitan dengan bully yang membuat saya trauma. Saya kecil di lingkungan dengan para tetangga yang menjaga kedamaian dan hanya dua rumah dari tetangga saya yang saya ingat jika saya keluar rumah hati saya merasa lelah. Saya sangat tahu sekali bahwa anak kecil usia 4 tahun adalah anak yang tidak tahu apa-apa dalam melakukan sesuatu jika ia sedang dilukai. Usia tersebut benar-benar membuat saya trauma. Saya melihat sendiri bagaimana mereka (2 tetangga itu) menghina dan banyak memberikan hate speech kepada keluarga saya. Sejak saat itu saya menjadi takut untuk mengenal orang lain dan menjadi sedikit anti sosial. Saya hanya main dengan sepupu laki-laki saya.
Di rumah saya hanya punya satu teman perempuan. Tapi saya punya banyak teman rumah yang laki-laki baik sepupu maupun tidak. Saya merasa nyaman dengan mereka dan saya tidak cocok bermain dengan perempuan karena jika bermain dengan perempuan, itu sangat membuatku pegal hati. Kau tau jelas kan bagaimana musuh-musuhan ala anak kecil zaman dahulu ? Ahaha geli sekali jika mengingat pertengkaran sepele itu di usia 19 tahun sekarang. Saya tidak suka drama jadi saya bermain dengan teman laki-laki saja.
Saya bersekolah di SDI Swasta yang memiliki tingkatan dari Tingkat Tahdiri sampai tingkat kelas 6. Saya termasuk hitungan anak baru dari angkatanku, saya menjadi siswa di sana dengan mendaftar langsung ke tingkat kelas satu. Jadi jelas sekali saat kelas satu saya belum memiliki teman tetap.
Ada beberapa kejadian yang membuatku trauma. Saat saya kelas 4 ada seorang lelaki yang menyukai saya dan saya tidak peduli. Lucunya anak itu senang sekali bolos sehingga mamahnya selalu ke kelas saya dan meminjam buku saya. Tapi tunggu, kenapa meminjam buku saya terus menerus ? Apa mamahnya tau kalau anaknya menyukai saya ? Aih kisah masa lalu yang memalukan. Sikap mamahnya dan sikap dia yang terang-terangan selalu mengarah pada saya sehingga saya jadi pusat perhatian anak kelas yang lain. Saya akui, anak itu punya paras ya lumayan jadi banyak anak perempuan yang suka dia dan saya bukan termasuk ya. Lucunya saya menjadi buah bibir mereka dan mereka menjauhi saya dengan alasan katanya saya cari perhatian ke mamahnya. Duh lucunya kisah ini. “Dengar ya kawan, saya saja tidak suka dia dan saya tidak tahu kenapa mamahnya selalu meminjam buku ke saya ? Saya juga tidak pernah cari perhatian, saya juga tidak tahu mengapa mamahnya selalu memberi saya hadiah saat selesai meminjam buku saya?” Duh lucu yah, saya menjadi korban bullying karena perasaan saja padahal saya tidak tahu apa-apa dan saat itu masih kelas 4 SD, ya saat usia 9 tahun.
Kejadian ini juga terulang saat kelas 6 SD. Ada seorang laki-laki populer menyukai saya dan dia tidak tahu kalau ada dua orang yang menyukainya. Satunya adalah sahabat waktu SD saya dan satu lagi teman biasa. Nah yang teman biasa saya ini agak sedikit populer gitu, saya tidak tahu kenapa saya jadi agak sedikit dicuekin ketika masuk ke kelas dan aktivitas kelas yang lain. Semua terbongkar saat semester 2, saking kesalnya saya dan saya langsung bilang ke dia. “Saya gak suka kamu jadi pedulikan saja kedua orang itu dan karena kamu, saya jadi korban bullying lagi”. Dan akhirnya dia dan teman biasa saya yang suka dia pacaran, ya pacaran anak SD gitu. Dua kejadian tersebut sangat dalam sekali membekas ke dalam hati saya, jelas sekali anak SD yang polos tak akan mudah melupakan kejadian paling menyakitkannya apalagi kejadian yang menjadikan dia korban padahal dia tidak ada salah apapun. Haha lucu banget kalau inget ini!!!
Ketika MTs pun ya makin dah, makin hot bullying yang terjadi. Masih sangat segar di otak saya, semua hal perih itu terjadi saat saya kelas 8 ya saat menginjak usia 13 tahun. Saya punya sahabat dan dia memang menjadi korban bullying sejak SD. Saya mendapatkan kesempatan untuk sebangku dengannya. Kami juga sekelas dengan teman perempuan yang pernah bullying sahabatku. Kau tahu ? Kami pernah beberapa kali dilempar kertas dan juga pernah dilempar potongan-potongan penghapus ? Parah wanita itu mengajak teman-teman laki-laki kelas saya yang dekat dengannya untuk mengejek sahabat saya. Sejujurnya aku tidak tahu jelas cerita mengapa sahabatku menjadi korban bullying hampir satu angkatan dan punya teman sedikit saat SD. Kelas 8 menjadi kelas paling neraka dan banyak sekali bullying yang saya terima. Huft~ dari tiga jenis kejadian ini aku trauma untuk punya teman wanita karena kalian tau sendiri bahwa wanita sangat mudah menghina sesama wanita :( Parahnya lagi saat MTS pun sahabat SD saya mulai berubah dan sedikit menjadi pendiam jika bertemu saya, mungkin dia malu karena sudah punya teman baru yang lebih asik dari saya yang agak introvert. Saat MTS saya hanya punya sahabat tiga orang saja dan sampai sekarang kami masih bersahabat.
Ketika MA pun bullying yang saya terima makin parah. Kejadian bulling hadir saat saya kelas 10. Saya tahu jelas berawal dari kesalahan saya dan kesalahan itu dilapor oleh kakak kelas perempuan saya. Saya masih ingat wajah mereka ahaha. Akhirnya saya dipanggil guru BK dan ini pertama kalinya saya punya kasus karena kesalahan saya. Di dalam ruang BK, saya hanya bisa menangis dan tidak berbicara meskipun beliau bertanya kepadaku. Di hari selanjutnya, orang-orang sekolah khususnya guru menjadi berubah jika berhadapan denganku. Aku tau aku salah. Teman-teman saya yang satu eskul dengan saya pun menjadikan saya buah bibir karena saya akui kesalahan saya berdampak dengan lomba yang saya tekuni saat itu. Semua guru menjadi lebih pendiam terhadapku dan ada beberapa guru yang menjadikanku buah bibir setiap kelas. Aku tahu aku salah tapi “Pak, Bu, saya masih punya kewajiban untuk tidak disakiti oleh lisan meskipun saya salah.”
Saya menjadi lebih diam sejak saat itu dan rangking saya menurun saat semester 2. Saya menjadi trauma lagi untuk berteman dengan perempuan karena yang melapor kesalahan saya adalah perempuan dan trauma untuk menjadikan guru sebagai tempat curhat dan berpendapat. Aaaaahh saya tahu lagi, saya salah dan tetap salah di mata kalian yang tahu masalah ini sampai kapanpun.
Saya sadar saya mau berusia 17 tahun, jadi saya harus bangkit. Saya beranikan diri untuk menyapa guru dan menunjukkan kepada mereka bahwa selamanya saya adalah siswa baik dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Saya memperbaiki pandangan teman-teman satu eskulku, mencoba untuk lebih mendengarkan mereka dan berproses bersama mereka. Saya memperbaiki rangking dan interaksi sosial dengan kakak kelas yang pernah menyakiti saya.
Semua anggota sekolah menerima kelamnya masa lalu saya dan memakluminya. Saya mampu membersihkan nama dengan prestasi dan alhamdulillah saya lulus dengan membawa tropi sebagai Siswa Berprestasi Bidang Akademik. Teruntuk murid yang pernah nakal ini pun para guru masih memberikan kesempatan untuk saya bahwa saya bisa jauh lebih baik lagi.
Aaaah benar-benar bullying yang terjadi di sekolah sejak SD hingga MA sebenarnya masih banyak tapi tidak mampu dituangkan seluruhnya di sini. Semakin tinggi tingkat kelasku semakin parah bullying yang aku dapat.
Kau tahu ?
Teruntuk kalian yang pernah bullying saya. Karena kalian, saya menjadi dihantui peristiwa ini setiap malam. Saya menjadi sulit punya teman wanita dibanding teman pria. Saya menjadi sulit untuk percaya lagi kepada seorang guru sebagai teman curhat. Saya menjadi sulit melupakan ini. Saya tidak dendam tapi otak saya tidak bisa melupakan ini meskipun ini sudah berlalu dan saya sudah mencoba berdamai dengan masa lalu.
Tolong untuk kalian yang masih bully teman-teman kalian baik berupa body shaming atau bully social. Kata al-Qur’an, orang-orang yang kalian hina mungkin lebih baik dari kalian :) Dan secara fakta lapangan, orang-orang yang jadi objek bullying punya trauma yang sampai kapanpun tidak bisa hilang dan punya ingatan kuat bagaimana kalian melakukan hal itu kepadanya. Jadilah dewasa dalam berinteraksi sosial.
Dari peristiwa bullying sangat mengajarkan saya bahwa menghargai hati orang lain itu sungguh bernilai lebih dari permata dan lisan adalah senjata sekaligus racun yang paling berbahaya karena bisa mematikan hati orang yang hidup.
Sebenarnya ada kisah bullying saat saya di kampus dan nanti akan dibahwa di kesempatan selanjutnya. Quote hari ini adalah
“Semakin berpendidikannya seseorang bukanlah juga termasuk semakin berpendidikannya lisan seseorang”
“Kita akan sulit menilai tahap kedewasaan seseorang jika masih disandingkan dengan kalkulasi usia. Dewasa adalah bukan angka usia tapi kualitas pengalaman dan kejiwaan hidupnya.”
“Aku tidak mau menjadi orang dewasa seperti mereka. Yang selalu membicarakan kesalahan orang lain dengan dalih sebagai pembelajaran tapi lupa kalau diri sendirinya yang lebih punya kesalahan yang menjadi pr kehidupan.”
Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.
BalasHapusQuote Soekarno bukan itu Bas????
HapusBukan soekarno mbak,hehe
Hapus