#Episode 2 - F32.3
Terhitung melewati 6 hari sejak diagnosis tersebut. Apa yang banyak dilewati?
---
Mengelola diri saat turbulensi sudah menjadi semakin yakin diterjang meski masih takut.
Menikmati kebaikan kecil es krim cokelat juga patut disyukuri.
Kemudian apa yang lebih penting dari hal-hal yang telah dilewati?
Melakukan mawas diri apapun pekerjaannya digantungkan betul-betul karena Allah.
Betul-betul tidak perlu merana sendiri.
Sisakan ruang untuk istirahat, sisakan hati untuk tawakkal.
---
Percakapan sore di tepi jalan di area Tunjungan.
"Kamu tau gak kenapa air laut itu asin?"
"Susunan kandungan garam di laut itu yang buat asin."
"Tuh kan, jawabannya serius banget! Makanya jadi begini kan?! Bukan itu jawabannya.
"Iya, terus mau jawabannya apa?"
"Karena ikannya keringetan untuk airnya jadi asin deh."
"Iya oke diterima jawabannya."
"Kamu tau gak kenapa ikan asin itu asin?"
"Ikan asin itu gak asin. Asal ikannya tidak asin, ditambahkan garam dari nelayan ikan asinnya terus dijemur jadilah ikan asin."
"Tuh kan?! Jawabannya begitu terus. Pantes kan, pantes jadi kaya begini sekarang. Kamu terlalu serius?!"
"Oke terus jawabannya mau kaya gimana? Aku kan menjawab sesuai fakta."
"Karena ikan asinnya dijemur lalu keringetan dan jadi asin karena keringat ikannya."
"Iya, oke diterima jawabannya."
Percakapan yang mengandung penolakan dan gelak tawa yang diramu dengan pikiran usil. Percakapan yang membuat kepala sedikit lebih enteng.
---
Saat ini mengontrol keinginan adalah PR setiap hari.
Bagaimana segala keinginan jangan sampai membuat emosi yang begitu terlalu.
Terlalu senang, terlalu sedih, terlalu lelah, terlalu marah, terlalu kecewa, dan keterlaluan perasaan lainnya.
Menyerahkan segala emosi kepada-Nya, memakai pakaian hamba Allah bahwa merasakan segala-Nya dengan sadar bahwa segala yang terlihat dan dirasa adalah Qada dan Qadar-Nya, maka dari itu tetaplah mawas diri sehingga apapun karsanya dapat terkontrol dengan baik.
---
Allah, aku sekarang betul-betul melepaskannya.
Melepaskan segalanya, semua orang, semua karsa, semua aspek, dan semua yang aku miliki hingga sekecil emosi ada apa dengan hari esok.
Aku merelakan bagaimana segala yang tak terucap, tak terlihat, dan tak terjamah akan melebur bersama waktu tanpa diketahui siapapun dan apapun.
Yang tadinya tumbuh, berkembang, hilang, dan akan sirna sudah.
Sirna, lenyap, dan raib.
Kali ini tidak ada lagi keakuan. Tidak ada lagi aku berharap tentang dia kepada-Mu.
Tidak akan ada lagi itu. Tidak akan lagi usaha yang melibatkan keakuan.
Aku menghilangkannya.
Hanya saja aku selalu meminta selalu berada dalam lindungan-Mu selamanya.
---
Dear diri sendiri.
Berterima kasih pada diri sendiri bagaimanapun kamu betul-betul berjuang keras menetralisir apa yang di luar, berfokus melatih illahiyyah di dalam, dan meninggikan potensi kesembuhan yang lebih pesat dan bijaksana.
Komentar
Posting Komentar