Lembaran Kedelapan 2022 | Nur Afiah Zahrah
PERPISAHAN
(8 of 365)
Bagaimana pun aku berdoa agar terus dipertemukan dan selalu bersama dengan orang-orang baik, jika Allah menginginkan aku dan ia berpisah, maka terpisahlah. Bagaimana pun aku berdoa agar aku dijauhi oleh orang-orang yang jahat, jika Allah menginginkan aku dan ia terus bersinggungan, maka hubungan itu masih akan terus terjalin.
Bagiku, setiap orang yang kita temui itu memiliki tenggat waktu bersama kita, baik itu orang-orang baik maupun orang-orang jahat. Setiap pertemuan itu ada maksud di dalamnya. Setiap pertemuan itu kita harus menjalankan ujian dan tugasnya satu per satu hingga terciptalah perpisahan.
Menurutku, perpisahan itu tercipta dengan dua alasan. Alasan pertama, orang baik atau orang jahat kepadamu, ia harus berpisah denganmu karena orang itu dinilai oleh Allah tidak pantas bersama denganmu di hari esok. Atau orang itu tidak pantas bersamamu di hari esok, bisa karena kamu orang baiknya atau orang jahatnya. Apa pun alasannya. Alasan kedua, perpisahan itu tercipta karena kamu terus menyia-nyiakan pertemuan dengannya lalu kamu akan dihukum dengan penyesalan di akhir pertemuan.
Seperti lembaran pertemuan sebelumnya, aku selalu penasaran bagaimana cara dan alasan perpisahanku dengan setiap orang yang aku temui. Aku selalu berdoa agar Allah menyiapkan banyak sweet goodbye agar aku selalu say hello say goodbye dengan ringan.
Sepanjang aku mengalami pertemuan dengan setiap orang, ternyata aku semakin menyukai perpisahan. Aku selalu mengajari diriku untuk senang hati dengan perpisahan. Meski perpisahan itu berat dengan orang-orang yang aku sayang, aku ingin menghargai bagaimana perpisahan itu menjemputku dan dia. Aku memasang mindset bahwa tidak ada perpisahan yang sia-sia, seperti pertemuan, perpisahan pun juga ada maksud di dalamnya. Bagaimana pun kita mempertahankan seseorang jika Allah menilai perlu dipisahkan dan orang itu ingin menjauh darimu maka perpisahan itu mutlak untukmu.
Aku tidak takut dengan perpisahan, selalu aku tanamkan itu. Aku ingin hidup dengan banyak melepaskan hal sekecil apa pun seperti mengikhlaskan hari kemarin, melepaskan teman-teman yang ku sayang yang tidak ingin terhubung lagi denganku, dan acuh dengan orang-orang aneh. Semua yang aku anggap baik dan buruk sejatinya memang milik-Nya dan akan kembali juga pada-Nya.
Aku tidak ingin mengusahakan terlalu keras segala yang memang ditakdirkan untuk pergi dan menjauh. Aku tidak ingin berkata-kata yang aneh seperti orang itu harus selalu bertemu dan terhubung denganku. Aku menginginkan kehidupan yang aman dan damai sepanjang pertemuan-perpisahan beriringan. Baiknya tidak berharap dengan sesuatu yang fana yaitu pertemuan-perpisahan ini. Yang kekal di sini adalah Tuhan Pemilik Pertemuan-Perpisahan ini.
Berdoa, berbincang, dan berdiskusi dengan Tuhan tentang segalanya lalu saling terikat dan saling percaya. Itu adalah kunciku. Aku membiarkan setiap pertemuan dan mengikhlaskan setiap perpisahan. Jika Allah bilang ya, aku akan ya juga. Jika Allah mengarahkanku ke tidak, aku tidak akan berusaha untuk ya. Di dalam kehidupan ini Allah Maha Adil, pertemuan-perpisahan itu ada untuk menjaga kehidupan dari banyak pihak, bukan hanya untuk kehidupanmu saja.
Bagaimana pun perpisahan itu indah atau tidak, Allah menetapkan itu untuk kebaikan semuanya. Memang ya, di dunia ini kita tidak bisa bersandar pada siapa pun karena kita semua memiliki tenggat waktu dengan pertemuan-perpisahan yang terikat dengan orang lain. Karena kita tahu bahwa setiap pertemuan selalu disiapkan perpisahan, jadi hargailah setiap pertemuan itu bagaimana pun beratnya bertemu dengannya. Bisa jadi, kamu akan menyesal jika orang itu sudah berpisah padamu. Jadi hormati dan hargailah setiap pertemuan supaya kamu akan terarah dengan perpisahan yang sama indahnya dengan pertemuan.
Jadi teringat perpisahan di sekolah wkwk, dulu lebay dan nangis waktu pisah ama temen😄😄
BalasHapusHahaha XD Aku pun juga nangis terus setiap perpisahan ww
Hapus